Aku Benci Taksi

Posted on 9 April, 2012

4



Kid, sejak masuk PLN, aku jadi sering bepergian, apalagi setelah pindah ke Lombok, frekuensi tugas luar, dan frekuensi pulang ke Bandung jadi lebih sering. (Sayangnya kok masih juga belon bisa ketemu ya? ).

Ada banyak pilihan menuju Bandung :

Cara paling gampang : pake pesawat direct ke Bandung. Kalo dari Lombok, penerbangan ke Bandung bisa dicapai dengan pake wings ke Bali dilanjut Air Asia ke Bandung. Atau Lion ke Surabaya, dilanjut Lion / Garuda ke Bandung. Pilihan yang mahal.

Catatan : mulai pertengahan 2012, ada penerbangan Merpati dan Lion yang melayani rute Lombok-Bandung. Merpati transit di Surabaya, sedangkan Lion transit di Denpasar.

Cara yang biasa kulakukan : pake pesawat direct ke Jakarta. Dilanjut Travel ke Bandung. Cara ini paling ekonomis, tapi waktu tempuh lumayan lama. Terutama travel bandara Sukarno Hatta Bandung yang bisa makan waktu 2-6jam.

Dulu, aku suka pake Revin, atau Cipaganti. Enak karena kita dianter langsung sampe rumah. Ga enaknya, karena rumah di daerah timur Bandung, biasanya aku diantar paling terakhir. Yang artinya aku harus mau ikut sang supir travel keliling kota nganterin penumpang lain. Ke Bandung nya sih Cuma 2 jam, tapi sampe rumahnya bisa2 nambah 2 jam lagi karena keliling kota dulu.

Akhirnya kutemukan alternatif yang lebih ekonomis dan lebih cepat : pake Bus Primajasa. Ya, dengan 75rebu, Bandung bisa dicapai dengan waktu rata2 3 jam, atau bahkan kurang. Bus yang dipergunakan adalah yang berukuran besar. Lebih aman dan nyaman. Kalo pegel tinggal jalan-jalan. Kalo pengen pipis ya tinggal ke wese yang tersedia di belakang. Enaknya lagi, Primajasa menerapkan kebijakan untuk tidak menaikturunkan penumpang di sembarang tempat. Hanya, dan hanya jika sudah sampe di Bandara, dan hanya jika sudah sampe di Pool Bandung yang terletak di daerah perumahan Batununggal.

Akhir-akhir ini aku sering tiba di Pool Batununggal tengah malam, karena menggunakan pesawat terakhir dari Lombok. Beberapa kali sih, Keluarga masih mau jemput. Lama-kelamaan cape. Jadinya aku terpaksa pake taksi. Untungnya, Primajasa membuka pool taksi juga. Jadinya begitu turun dari bus, langsung diarahkan ke antrian taksi terdepan, dan langsung meluncur ke rumah. Amaaan. Enaknya lagi, semua taksi yang ada disitu resmi menggunakan argo. Jadi aku tak perlu repot-repot menawar. Tinggal dugem (duduk gembira) sampe pintu gerbang rumah. Bayar ongkos sesuai argo (biasanya sekitar 40ribu rupiah), dan sampe deh.

Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Kira-kira sebulan lalu saat aku tiba lewat tengah malam di pool batununggal, saat aku baru saja pulang dari negeri nun jauh di utara sana, aku terbengong saat sang supir taksi menolak memakai argo dan menawarkan harga yang cukup fantastis. Setara dengan tiket primajasa ke Bandara! Aku protes ke pengelola taksi disitu, tapi dijawab, “ya maklum pak, kan sudah malam”. Padahal disitu jelas2 tertulis besar-besar “SETIAP ADA PENUMPANG, TAKSI PALING DEPAN WAJIB BERANGKAT DENGAN ARGOMETER” dan “DISINI PANGKALAN TAKSI MENGGUNAKAN ARGO METER”.

Bagasi yang sudah masuk ke taksi segera kuambil lagi, dan kubiarkan taksi kurang ajar itu dinaiki penumpang lain. Kudatangi taksi berikutnya, dengan operator yang berbeda, tapi lagi-lagi sang supir menolak menggunakan argo. Nasib yang sama kualami dengan taksi berikutnya, dan berikutnya lagi. SIALAN! 4 operator taksi yang berbeda semua menolak pake argo!

Duduk dulu ahh.. Disebelahku ada bapak-bapak yang lagi ngahuleng aka. Termenung. Saat kutanya, dia juga ternyata lagi bingung memikirkan gimana caranya pulang, karena sang supir taksi menawarkan harga yang tak terjangkau. Sayangnya tujuan kami tak searah. Gila ya mereka. Dipikirnya orang yang dari bandara kaya-kaya semua kali yaaa.. hahaha… ada temen ngutruk euuy…!!

Puas ngomel, kuputuskan untuk telepon satu operator taksi yang tak ada di pangkalan itu. Taksi yang jadi tumpuan harapan dan selama ini tak pernah mengecewakan (cieee… lebay pisan cuuuyyy!!!). Taksi yang sering dimusuhi oleh supir-supir taksi yang lain karena pelanggan lebih memilih taksi itu daripada taksi mereka.

Buka BB, search 3B, muncul angka 022-756-1234. Teken dial. Nyambung. Kuutarakan maksudku minta dijemput di Primajasa. Dan salutnya, sang operator telepon malah menyarankan agar aku menggunakan taksi lain yang mangkal disana. Hebat! Kujelaskan kalau taksi yang ada disitu gamau pake argo. Akhirnya sang operator telepon menyarankan kalau aku memang mau pake taksinya, sebaiknya di mesjid batununggal, yang jaraknya kira2 150m dari pool. Alasannya karena mereka ga enak dengan para supir taksi lain. Okelah. Daripada tidur di pool?

Kuajak sang bapak-bapak bengong tadi. Tapi dia cuman menggumam gak jelas sambil geleng-geleng kepala. Ga percaya sama saya pak?? Ya sudah lah. Selamat tidur di pool sajah. Segera kulangkahkan kaki sambil menyeret koper beratku. Kutolak tawaran-tawaran para supir taksi yang mulai mendiskon harga borongannya. Jatuhnya beda tipis sih dengan pake argo. Tapi aku kadung keki. Maju terus!

Baru 50 meter meninggalkan pool, ada sebuah taksi merendengiku, dan lagi-lagi sang supir menawarkan taksinya. Cuekin aah… cih.. Emangnya gw cowok apaan? Terhitung ada 3 supir taksi sepanjang jalan yang nawarin. Ga kugubris. Dijawab aja engga. Pandangan tetap lurus ke depan sambil menggumamkan lagu cing cangkeling dari headset. Sukurin looo!!!

Didepan tampak taksi tumpuan harapanku sudah menunggu. Dan kayaknya sang supir ngeliat, jadi dengan baik hatinya dia memundurkan taksinya sehingga aku tak perlu susah payah jauh-jauh menyeret koper yang lama-kelamaan kerasa tambah berat. Udah lemes neeh!

Alhamdulillah, akhirnya dapet taksi. Ngobrol2 dengan sang supir. Ternyata dia juga baru nganterin penumpang ke pool. Ada beberapa orang yang mau naik, tapi dia tolak dengan alasan ga enak dengan supir taksi yang lain. Salut dah. Sampe di rumah, kuberikan selembar biru, dan kutolak kembalian yang ditawarkan. Gapapa deh, itung-itung penghargaan atas dedikasi dan kejujuran yang berhasil diterapkan oleh sang perusahaan kepada seluruh supir taksinya.

Sejak itu, tiap kali pulang, aku selalu pesan taksi yang sama, olahraga dikit jalan kaki ke Mesjid Batununggal, dan diantar dengan tenang dan nyaman ke rumah. Terakhir, kudengar banyak penumpang yang mengambil cara yang sama denganku, atau naik ojek sampe ke tempat mangkal taksi itu.

Aku yakin, lama-kelamaan semakin banyak orang yang akhirnya akan memilih taksi 3b ini. Bukan karena paksaan, tapi karena pelayanan dan keramahan, prima yang ditawarkan.

Buat taksi yang lain : INSAP DEH..!!!

Posted in: traveling