PLN UIP : Apaan sih itu?

Posted on 4 January, 2013

8



Gak kerasa aku udah setaun lebih sedikit tinggal dan bekerja di Lombok. Resminya sih, aku mulai kerja per Oktober 2011. Berarti sekarang udah setahun 2 bulan ya.

Kalau dihitung dari pertama aku bertugas di PLN, ini adalah tempat kerja ke-4, dan Provinsi ke-4 :
1. PLN Wilayah Suluttenggo (Manado-Sulawesi Utara)
2. PLN Cabang Luwuk (Luwuk-Banggai-Sulawesi Tengah)
3. PLN Cabang Gorontalo (Gorontalo)
4. PLN UIP Kitring Nusra

di depan kantor yang masih seadanya

di depan kantor yang masih seadanya

Nah, pada penempatan kerja ke-1 sampai ke-3, aku bertugas di Unit PLN Wilayah, yang tugasnya ngurusin listrik dari hulu sampe ke hilir. Maksudnya, unit induk (Wilayah), maupun unit pelaksana (Cabang) itu ngurusin Pembangkit Listrik (hulu), jaringan Transmisi (20 kV oleh Cabang, 70-150 kV oleh AP2B), sampai listrik didistribusikan ke pelanggan, dan juga sampai nagih rekening listrik dari pelanggannya. Repot? Jelas. Tapi cerita mengenai kerepotan dan kompleksitas proses bisnis sebuah Unit Pelaksana (Cabang) akan kuceritakan di lain kesempatan. Disini, aku ingin sedikit cerita mengenai tempatku bertugas sekarang : PLN UIP Kitring Nusra.

Ternyata, selain ngurusin Listrik dari mulai dibangkitkan sampe dipakai dan ditagihkan ke pelanggan, PLN juga ngurusin pembangunan Pembangkit Listrik dan Jaringan Listrik untuk nantinya dioperasikan.

Nah, yang bertugas untuk ngurusin pembangunan Pembangkit Listrik dan Jaringan (Transmisi) Tenaga Listrik itu adalah PLN UIP alias Unit Induk Pembangunan, sedangkan yang mengoperasikannya, adalah PLN Wilayah (dengan unit2 dibawahnya yaitu Area, AP2B, APDP, Rayon), PLN Distribusi (APJ, UPJ), PLN Pembangkitan, dan lain-lain lah. Bused ya ini perusahaan banyak bener jobdes nya.

Yang lucu dan menarik, adalah reaksi para pegawainya (termasuk aku tentunya) kalau listrik padam :
di Kantor Wilayah (Manado) :
mati listrik – telepon bagian teknik, nanyain masalahnya apa, di Distribusi atau di Pembangkit – Ngungsi ke Kantin – Makan Tinutuan – balik kerja saat listrik nyala

di Kantor Cabang (Luwuk) :
mati lampu saat jam kerja : turun ke dinas gangguan – cari info penyebab gangguan, lalu : – (a) bantuin jawab komplain dari pelanggan, atau – (b) ikut ke tekape gangguan untuk live report – jawabin sms / bbm temen2 sekota – balik kerja saat gangguan teratasi – ngehubungin wartawan Luwuk Post untuk booking slot pemberitaan gangguan PLN di koran besoknya
mati lampu saat malem (bukan jam kerja) : kebangun karena gelap gulita – nyalain radio (monitor komunikasi antara dinas gangguan dengan operator pembangkit) – siap2 jadi supir kalau2 gangguan parah dan manajer yang rumahnya sebelahan mau liat tekape – jawabin sms / bbm dari temen2 sekota (tetep, biar jam berapapun pasti ada aja yang nanyain) – kembali tidur saat listrik nyala

Di UIP (Mataram)
mati listrik – keluar ruangan karena kepanasan – ngomel2 ke temen2 di APDP, nanyain kapan listrik nyala lagi (kalo bisa dilama2in sampe jam pulang kantor, hahahaa)

Itulah di UIP, mungkin karena urusan kerjaannya ga bersentuhan dengan pelanggan dan dengan operasional pelayanan listrik, banyak teman-teman yang kurang aware dengan komplain pelanggan. Apalagi masalah sambung baru dan tambah daya.
Tapi kalau ditanya soal kurva S, jadwal komisioning pembangkit, progress pembangunan transmisi, amandemen kontrak sampe pembebasan tanah, kamilah ahlinya.

Pembangunan PLTU NTT

Pembangunan PLTU NTT

Jadi harap dimaklum aja ya kalau ada diantara kami-kami yang kurang gitu ngeh kalo ditanya soal pelayanan pelanggan listrik.

Tanya saya aja ya ^_^
@akangichan

Posted in: PLN, social media