Mengingat Umur, Mengingat Ibu Yang Melahirkan Kita

Posted on 1 February, 2013

10



Kid, makasih telpon ucapan selamat ultah tadi pagi ya. Maaf semalam HP ayah lagi di silent, sementara yang punya HP lagi sibuk ditemplokin (dan bales nemplokin) telor sama teman-teman kost… hahaha.. What a nice neighbours. Makasih kawan. Love u all full!!!

Ulang tahun identik dengan ngucapin selamat, pesta-pesta, makan-makan, traktir-traktir, dan kado-kadoan. Tapi udah beberapa ulang tahun, aku lebih memilih untuk merayakannya sendiri, atau hanya bersama beberapa teman dekat.

Kenapa?

Saat ulang tahun, yang teringat bukan umur yang bertambah tua, atau ucapan selamat dan doa dari teman dan saudara. Tapi, aku selalu ingat mamih (ibu. red). Ya, saat kita ulang tahun, tepat saat itu pula, sekian tahun yang lalu, mamih, dan ibu kita semua sedang berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan kita.

Kalau ingat itu, masih maukah kalian merayakan ulang tahun dengan pesta pora? Kalau aku, aku ingin merayakan ulang tahunku dengan dekat dengan mamih. Ngobrol-ngobrol, cerita-cerita, mijetin kakinya yang sakit.

Sayang karena aku sedang di Lombok, ulang tahun kali ini aku hanya mengirimkan 1,5kilo coklat yang kubawa dari KL kemarin. Dan denger-denger sih langsung ludes. Hahahaha… Awas kakinya sakit lagi mam.. Love U full…

Makan sama Mamih

Posted in: home