Long Way Ride P200NS To East Trip 3 : Paralayang di Batu, Malang – Mimpi Yang Tertunda

Posted on 19 November, 2013

5



Senin pagi, 4 November 2013. Wisma Songgoriti – Batu – Malang – Indonesia

Belum lama saya beristirahat, jam 7an Ghani (teman perjalanan saya mulai dari Batu ini) bangunin saya. Pemuda dari Operator Paralayang di Songgoriti – Batu sudah datang menjemput ke Wisma.

Ya, inilah alasan utama saya menempuh 800km hari minggunya :

 

Untuk melunasi salah satu mimpi masa kecil – mencoba Paralayang

😀

Setelah berkemas dan menyegarkan diri (baca : mandi kilat alias cuci muka doang), kami meluncur ke puncak Gunung Banyak, tempat start olahraga Paralayang di daerah Batu.  Lokasi Gunung Banyak ini dekat sekali dengan Wisma Songgoriti tempat kami menginap. Tidak sampai 10 menit mendaki dengan motor, kami sampai ke lokasi dengan ketinggian 1340 mdpl. Jalanan aspal mulus, hingga kira-kira 500m sebelum lokasi, yang masih berupa tanah keras. Kayaknya kalo musim hujan lumayan licin nih.

Lokasi di Gunung Banyak berada di Kawasan Wisata Desa Songgokerto dibuka pada tahun 1997 oleh TNI AU Abdurrahman Saleh, namun baru diresmikan pada tahun 2000 saat pelaksanaan PON XV oleh Ketua Umum Federasi Aerosport Indonesia, Hanafie Asnan.

Batu Peresmian Wana Wisata Dirgantara Gunung Banyak. Sayang dipenuhi coretan-coretan iseng

Konon cerita menurut masyarakat setempat nama Gunung Banyak berasal dari kepercayaan masyarakat tentang seorang bidadari yang mengawasi Desa Songgokerto dan Kawasan Batu dari puncak gunung yang menjelma menjadi seekor angsa (banyak), ada juga yang mengatakan menjelma menjadi seekor rusa.

Di puncak Gunung Banyak ini terdapat sebuah saung, dan beberapa warung makan.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC
SAMSUNG CSC
SAMSUNG CSC
Beruntung sekali, hari ini cerah, pemandangan sangat indah. Kita bisa melihat Gunung Panderman, Gunung Welirang, Gunung Bokong. Bahkan di kejauhan tampak pegunungan Tengger dengan Semeru nya.
SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Selain paralayang, tempat ini juga menyediakan permainan lain seperti shooting target, flying fox, serta penyewaan hammock.

Segera kami mempersiapkan diri untuk penerbangan tandem. Ghani yang akan terbang duluan. Sebelumnya, kami melihat proses penerbangan seorang atlit paralayang.

Parasut dikembangkan di tanah

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Menunggu angin datang, saya dan Ghani narsis dulu😀

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

dann… hupp… angin datang, parasut mengembang… take off!

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Tempat pendaratannya nanti disini nih :

SAMSUNG CSC

Beda ketinggian antara puncak gunung Banyak dan tempat pendataran adalah 300m. Hmmm.. Lumayan tinggi juga yaa..

Sekarang giliran Ghani.

Pasang harness

SAMSUNG CSC

Bentangkan parasut

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Menunggu Angin

SAMSUNG CSC

Daaaan… Take off!!!

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC
Mereka terbang semakin jauuh, kemudian tampak seperti mengambang tak bergerak di udara. Kereeenn..
Tiba-tiba mereka bermanuver, melingkar turun dengan cepat seperti elang menyergap mangsa… Tapi kemudian berhenti lagi… Melayang berputar-putar.. dan akhirnya mendarat tepat ditengah-tengah tempat pendaratan. Bulls Eye!!
Keren banget nih! Belakangan saya baru tau kalo pilot nya Ghani adalah atlit kelas dunia. Pantesan aja!

Baiklah.. sekarang giliran saya. Pasang harness, helm, sepatu. Dan berfoto. Ganteng kan?

SAMSUNG CSC
Saatnya nunggu angin. Pilot saya memandang pohon yang bergoyang-goyang tertiup angin dengan was-was. Anginnya terlalu besar! Kita tunggu sampai agak kecil dulu ya..

5 menit berlalu..

10 menit….

15 menit….

Angin tidak menunjukkan gejala akan mengecil, bahkan di langit tampak semakin banyak awan yang kata sang pilot menjadi penanda bahwa ada angin besar di udara (duh lupa saya, ini awan cirrus, cumulus, atau stratus ya? ada yang bisa bantu jelasin?)..
Akhirnya, pilotku menggelengkan kepala. Yak, penerbangan pagi ini batal! Terlalu beresiko untuk memaksakan terbang dalam keadaan angin seperti ini. Apa boleh buat, walaupun amat kecewa, saya terpaksa mengiyakan. Keselamatan memang harus diutamakan…

Perlahan kulepas kembali harness dan helm yang saya pakai. Mata terus melirik ke dahan pohon yang semakin kencang bergoyang, mengharap keajaiban. Angin.. bersahabatlah. Please!

Pilotku menjelaskan, kemungkinan sore angin mereda. Dia menawarkan agar saya kembali lagi di sore hari. Namun itu tak mungkin saya lakukan. Menurut jadwal.. Saya dan Ghani sudah harus meluncur ke Jember Ba’da Dhuhur.

Yah, manusia hanya bisa berencana, Allah jua yang menentukan. Tampaknya memang mimpi saya yang satu ini masih harus tertunda.

Tak lama Ghani datang. Dia sebenernya menunggu saya di titik pendaratan. Tapi karena saya tampak tidak kunjung terbang, akhirnya dia dan pilotnya memutuskan untuk kembali ke puncak Gunung Banyak ini.

Saya jelaskan situasi ke Ghani. AKhirnya setelah menyelesaikan pembayaran, kami kembali ke hotel. Masih ada waktu 2 jam sebelum checkout. Lumayan buat istirahat mengembalikan stamina.

To be continued .. kesini

Lhaa.. cerita motorannya mana nih? Sabar.. Ga bosen apa baca cerita motoran terus? Saya aja yang ngejalanin (dan ngetiknya) cape. Tangan aja masih lemes karena kopling NS yang keras. Mudah-mudahan istirahat 2 jam cukup. Hehehe..
kolase Part3.1

Tentang Paralayang

Berminat nyobain paralayang? Persayaratannya mudah. Selain sehat jiwa raga, dibutuhkan 7 lembar uang biru untuk bisa merasakan nikmatnya terbang di langit yang luas. Ya, cukup 350ribu rupiah saja. Mahal?? Silakan beli peralatannya. Dengan biaya sekitar 30juta rupiah, 1 set parasut sudah bisa ditebus. Bisa dipake bertahun-tahun sampe kamu jompo.
Berminat terbang sendiri? Siapkan uang 7,5juta.. Ya, tujuh juta lima ratus ribu rupiah. Dan kamu akan mendapatkan pengajaran dari trainer bersertifikat, dan nantinya dapet licence yang bisa dipake di hampir seluruh dunia. Oya, dengan biaya sebesar itu, kamu nantinya akan terbang sekitar 40 kali. Kalo diitung-itung, biaya sekali terbang ga nyampe 200rebu, jatuhnya jauh lebih murah daripada tandem. Dapet ilmu dan sertifikat lagi. Dengan modal serifikat itu, kamu bisa terbang sendiri, dengan menyewa peralatan sebesar 100ribu rupiah saja per sekali terbang. Lumayan kan?

@akangichan

Posted in: adventure, biker