One Day Trip Round Minahasa Highland : Waruga Desa Sawangan

Posted on 17 June, 2014

2



Minahasa.

Tau dimana tempatnya?

Emm.. Gatau ya?

Kalo Manado tau dong? Ibukota Sulawesi Utara ini memang menyimpan banyak keindahan. Pasti kalian tau gimana kerennya dunia bawah laut Bunaken, manisnya cewek-cewek Manado, dan kulinernya yaang… Yummiiee!!

Tapi, yang mau saya ceritakan bukan itu. Tapi Minahasa.

Minahasa, merupakan suku terbesar yang ada di Sulawesi Utara. Kata Minahasa juga merujuk pada dataran tinggi yang mengelilingi kota Manado.

Perjalanan mengelilingi Minahasa sendiri sudah sering saya lakukan. Ya iyalah. Manado kan pernah jadi tempat tinggal saya selama 3 tahun. Namun, perjalanan satu hari mengelilingi minahasa kali ini sangat berkesan, karena saya lakukan bersama papih-mamih.

Sayangnya, waktu yang tersedia untuk jalan-jalan cukup singkat hingga membuat saya harus berpikir keras mengatur jadwal : 1 hari berkeliling minahasa. Whew.

Pagi hari, kami sudah meluncur dari penginapan di daerah boulevard Manado. Tujuannya adalah Airmadidi. Sebuah kota kecamatan kecil di kaki gunung Klabat, 20km dari Manado. Dari Airmadidi, kami berbelok kanan, melintasi jalur airmadidi-tondano yang kecil dan berkelok-kelok. Tujuan pertama  kami adalah Waruga yang terletak di desa Sawangan.

kolase

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.

Letak kompleks waruga ini tidak jauh dari kota Airmadidi. Sayang plang petunjuknya kecil. Kalau tidak awas, pasti ga keliatan. Hehehe. Jadi kalo mau kesitu, sering-seringlah bertanya.

Pagi itu kami merupakan pengunjung pertama. Tergopoh-gopoh sang juru kunci makam membukakan pintu gerbang makam. Kayaknya si bapak ga terbiasa terima tamu pagi-pagi gini. Hahaha..Kompleks makam yang konon sudah berusia 200 tahun ini tampak asri. Rumput hijaunya terpotong rapi. Beberapa pohon yang menaunginya membuat suasana pagi itu terasa sejuk.

PAPIH MAMIH SULAWESI (232)

Sambil berjalan keliling makam, Si Bapak menerangkan sejarah makam kuno suku Minahasa ini.

PAPIH MAMIH SULAWESI (218)

PAPIH MAMIH SULAWESI (223)

Waruga terakhir dibuat pada tahun 1800an, dan kemudian oleh pemerintah Belanda dilarang karena cara menguburkan mayat dengan memendamnya di dalam batu seperti itu dianggap menjadi penyebab berjangkitnya wabah tipus dan kolera pada waktu itu. Wajar juga sih. Batu waruga nya kan cuman ditaruh diatas tanah. Kemudian saya perhatikan, terdapat banyak celah antara batu kotak tempat menaruh mayat dan tutupnya yang berbentuk bubungan rumah.

PAPIH MAMIH SULAWESI (234)

Pada bagian tutup terdapat ukiran atau relief yang menggambarkan mata pencaharian orang tersebut semasa hidup.

Mata pencaharian orang ini dulunya apa ya?

Mata pencaharian orang ini dulunya apa ya?

Papih& mamih tampak serius merhatiin uraian si petugas, kalo saya sih asik foto-foto. Hehehe..

PAPIH MAMIH SULAWESI (227)

PAPIH MAMIH SULAWESI (237)

PAPIH MAMIH SULAWESI (239)

Puas foto-foto danberkeliling areal makam yang ga luasnya cuman setengah lapang sepak bola ini, kami kemudian diajak si petugas untuk liat-liat museumnya.

PAPIH MAMIH SULAWESI (247)

Disini terdapat dokumentasi foto-foto saat makam ditemukan, dan beberapa gerabahyang konon katanya berasal dari dalam makam. Hmm.. orang minahasa jaman dulu suka masukin barang-barang ke makam ternyata…

PAPIH MAMIH SULAWESI (246)

full team

full team

Beres liat-liat, isi buku tamu dan kasi sumbangan seridhonya, kami meluncur ke destinasi selanjutnya :

PLTA Tonsealama (tertua di Sulawesi – katanya)

bersambung….

Posted in: traveling