Long Way Ride P200NS To East Trip 3 :Batu-Malang – Jember (Santai dan Berliku)

Posted on 20 November, 2013

12



Cerita sebelumnya bisa dibaca disini

Kolase Part 3.2

Sekitar pukul 10an, kami meluncur turun dari puncak Gunung Banyak dan kembali ke Wisma. Yang satu turun dengan hati senang karena sudah berhasil main paralayang, yang satu lagi turun dengan hati mangkel…

Duh badan pegel euy. Ghani bilang, kemaren penjaga hotel nawarin pijet. Eiitss. bukan plus-plus yaa.. Wong yang mijetnya mbok-mbok. Jadilah kami keluar wisma lagi. Datengin rumah si mboknya, yang kira-kira hanya berjarak 200meter saja dari wisma.

Asik juga daerah Songgoriti ini. Hampir setiap rumah penduduk menyediakan penginapan. Bahkan ada yang sengaja menyediakan seluruh rumahnya untuk disewa, dengan memasang tulisan besar2 “VILLA DISEWAKAN”. Hadeuuh.. Rumah tipe 36 aja disebut villa. Hahaha..

Sampe ke rumah si mbok. Ternyata cuman si mbok sendiri yang bisa pijet. Males banget dah kalo harus ngantri. Akhirnya aku milih pulang ke wisma aja dah. Mendingan tidur daripada ngantri.

Kembali menyusuri gang-gang penuh penginapan untuk kembali ke wisma. Ga lupa singgah ke supermarket buat beli air mineral botol besar, dan lap kanebo. Kemudian segera kembali ke wisma.

Lap kanebo buat motor? eits.. bukaan. Lap kanebo tuh buat saya! Hahaha.. Ya sudah beberapa tahun ini saya ga pernah lagi bawa handuk kalo travelling. Repot! Selain dimensinya yang besar, menuh-menuhin ransel. Handuk juga susah keringnya. Nyimpen handuk basah berpotensi bau. Enakan pake kanebo. Abis handukan.. eh abis kaneboan tinggal dicuci, diperes. Dan langsung masuk ransel. Praktis! Jangan ngerasa risih pake kanebo. Kan pake yang baru. Lagian, coba maen ke toko olahraga, disana dijual handuk sport yang bahannya mirip dengan kanebo 15rebuan. Tapi dijual 5 kali lipat lebih mahal. Hehehe.

Mandi dulu ah. Sejuuk sekali airnya. Karena saya kurang tidur, ga berani guyur kepala pake air sedingin itu. Cukup badan aja. Yang penting badan jadi bersih. Selesai mandi langsung packing. Ya mending packing sekarang dah. Biar ga buru2.

Tidur yuk.

Jam 12 kurang dibangunin ghani. Disuruh packing. Untung udah, hehehe.. jadi sambil nungguin Ghani packing, saya masih bisa leyeh-leyeh. Setelah sholat Dhuhur, kami meluncur menuju Malang.

Sebelum Malang, singgah sebentar untuk makan siang, dan cari sarung tangan. Menjelang malang jalanan tambah macet. Sempat beberapa kali kami terpisah. Untungnya segera ketemu lagi. Kota Malang kami lewati. Singgah di pom bensin untuk isi bensin dan pipis.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (91)

Kemudian meluncur terus ke arah Selatan. Melewati Gondanglegi. Sempat beberapa kali mengurangi kecepatan. Bukan karena macet, tapi karena rekan seperjalanan saya sekarang jalannya santai. hahaha.. Setelah kemaren terbiasa dengan Cruising speed 90-110, sekarang turun jadi 60-80. Agak kagok euy.

Beberapa kali turunin speed jadi sampe 30kpj sambil liatin kaca spion. Bukan apa-apa, kami berdua belum pernah melalui jalur ini, dan banyak sekali pertigaan jalan. Jangan sampe di pertigaan salah ambil jalan trus jadi misah nih.

Setelah Dampit, jalan mulai berkelok tajam naik turun perbukitan. Jalannya mulus. Aspalnya halus. Akhirnya ga sabar. Gaass.. Saatnya ngetes NS di tikungan. Kemaren kan kebanyakan jalan lurusnya. Hehehe..

TURING NS BANDUNG LOMBOK (106)

Enak banget nih dipake nikung. Seperti biasanya di daerah pedesaan, banyak anak-anak yang pake matik tanpa helm dengan kecepatan tinggi nikung-nikung. Keberanian luar biasa ditambah dengan udah apal jalan. Seperti biasanya juga kalo turing, saya selalu ketinggalan kalo nyoba ngikutin mereka. Iyalah. PZ00 non NS saya berat, dan sokbrekernya terlalu lembut untuk rebah di tikungan.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (109)

Sungguh beda dengan NS, tikungan bisa dilalui dengan muluus. Asik sekali nempel matik-matik yang melaju kencang di tikungan. Ga perlu susah-susah nebak keadaan di depan. Cukup tempel aja.

Ghani tertinggal jauh. Akhirnya di sebuah jembatan besi, saya pun berhenti.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (96)

TURING NS BANDUNG LOMBOK (97)

Gak lama Ghani datang. Untuk mempermudah koordinasi, kemudian kami sepakat untuk me-reset trip meter. Jadi kalo terpisah. Tinggal telpon / bbm aja, “Gue di km 50, loe di km berapa? Enak kan? Cara ini saya dapatkan waktu ikutan turing bareng Teruci dari Garut ke Bandung.

Lanjut jalan. Jalanan semakin sempit dan berkelok terjal. Padahal ini jalan utama antar kota lho. serasa bukan di Jawa aja. Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil foto.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (104)

TURING NS BANDUNG LOMBOK (102)

TURING NS BANDUNG LOMBOK (100)

Jam 5 sore. Kami berhenti di sebuah jembatan besar dengan pemandangan yang indah. Teringat kalo saya belum sholat Ashar. Hahaha.. Keasikan ngegas nih.
Segera saya tunaikan sholat, foto-foto dan ngemil tahu.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (117)

Menurut penjual tahu, daerah ini disebut Piket Nol. Sedang jembatannya disebut Jembatan Gladak Perak, yang melintasi kali Leprak.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (129)

Kali ini merupakan kali buangan untuk mengendalikan lahar Gunung Semeru.

Disebelah jembatan ini, terdapat sebuah jembatan yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kayaknya jembatan ini yang dulu dipake waktu jaman penjajahan yaa.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (121)

TURING NS BANDUNG LOMBOK (125)

Tampak di ujung jembatan sepasang muda-mudi asik poto-poto. Pengen ikutan poto-poto, tapi masa sama Ghani?😦

Nama Piket Nol sendiri diambil karena pada masa penjajahan, jalur ini selalu dipakai pemerintah kolonial untuk memeriksa setiap angkutan yang membawa hasil bumi. Jalur ini dipilih karena dapat menghubungkan dua daerah dengan waktu yang relatif lebih cepat.

Selain itu, karena letaknya di lereng gunung dengan pemandangan yang indah membuat jalur ini menjadi favorit. Di dekat jembatan juga terdapat banyak gubuk bambu yang telah disediakan untuk menikmati pemandangan ke kota Lumajang.

Bila cuaca cerah, dari jembatan dengan ketinggian 750mdpl ini bisa melihat samudra Hindia. Bila melihat ke arah sebaliknya bisa melihat Gunung Semeru. Katanya lho yaa.. Saat kami lewat, cuaca cerah tapi berawan, sehingga baik laut maupun gunung tidak tampak.

Setelah melahap beberap butir tahu goreng. Kami melanjutkan perjalanan. Jalan masih berliku, namun sekarang menurun menuju kota Lumajang. Beberapa kali menemui iring-iringan kendaraan yang terhambat oleh Truk yang merayap perlahan. Untung kami pake motor. Jadinya bisa dengan mudah menyalip.

Adzan maghrib berkumandang saat kami memasuki kota Lumajang. Segera meluncur ke masjid terdekat. Di depan masjid terdapat lapangan yang tampak meriah dengan pasar malam lengkap dengan komidi putar dan permainan lainnya. Masjidnyapun ramai. Ternyata mereka sedang melakukan persiapan untuk merayakan 1 Muharram yang akan jatuh esok hari.

Setelah sholat bergantian biar ada yang jagain barang-barang dan motor, kami bersiap untuk berangkat lagi. Langsung ke Jember! Jalan sekarang relatif lebih besar, datar dan sedikit belokan. Kecepatan bertambah nih. Selepas kota Lumajang, Ghani mengambil alih posisi di depan. Saya tinggal mengikuti. Setelah sejam bermotor, saya mulai dilanda kantuk. Berusaha nyusul Ghani tapi lalu lintas yang cukup ramai membuat saya kesulitan. Akhirnya saya berhenti saat melihat ada masjid di kanan jalan.

Masuk halaman masjid, sms Ghani.

1.Screen cape

kemudian cari colokan. Batere udah low nih. Ga nemu. Mau ngecas pake powerbank, ga ada kabelnya. Panik. Bongkar tas. Sampe 20 menit nyari-nyari. Ga ketemu juga. Astagaaa.. kabelnya (berikut kepala chargernya) ketinggalan di wisma!

Pasrah dah. SMS Ghani lagi, minta cariin kabel data. Sekarang yang penting istirahat dulu dah. Di halaman masjid ada saung. Cocok nih buat rebahan. Eh, ternyata ada colokannya juga. Selamet! Charge HP, dan langsung terlelap.

Jam Setengah 10 terbangun. Segar! Saatnya meluncur lagi. Jember ga sampe 50kilo lagi. Kupacu NS dengan kecepatan 80-90kpj. Jalan relatif datar dan lebar dengan beberapa tambalan. Jam 10 lewat nyampe kota. Melipir dulu ah. Ternyata ada sms dari Ghani :

2.Screen sampe hotel

Ah, untung udah pake patokan tripmeter. Saya lihat, tripmeter menunjukkan 119. Berarti cuma tinggal 3 kilo. Saya jalankan NS perlahan sambil lihat-lihat kota. 10 menit kemudian sampe ke hotel.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (141)

Unpacking.

Setelah mandi, kami keluar hotel. Saatnya cari makan. Ternyata, hotel kami ini ga begitu jauh dari alun-alun kota Jember. Setelah beberapa kali mengitari alun-alun, akhirnya kami merapat ke warung soto. Saya makan soto + sate kambing. What de hell lah dengan OCD. Lapar berat jenderal!!!

Setelah makan, inginnya sih menikmati suasana malam di alun-alun Jember yang tampak cozy sambil foto-foto. Tapi kok ya badan kerasa cape banget. Padahal hanya menempuh jarak ga sampe 250km. Jadinya setelah singgah beli snack dan air mineral, kami pun kembali ke hotel.

TURING NS BANDUNG LOMBOK (133)

Kumpulkan tenaga. Explore Ijen esok hari pasti membutuhkan badan yang segar.

To be continued ke Long Way Ride P200NS To East Trip 5 : Menuju Ijen

@akangichan

Posted in: adventure, biker